+62 812 9824 2214

Tingkat risiko: Rendah

Siapa ini? Spam, telemarketing, atau panggilan yang sah? Laporan komunitas di Indonesia.

Rendah
Tingkat risiko
—
Kategori
0
Laporan spam
—
Laporan terakhir

Analisis AI

Informasi Terbatas: Nomor telepon +6281298242214 memiliki laporan terbatas yang tidak menunjukkan aktivitas berbahaya atau penipuan. Laporan dari komunitas hanya mengandung informasi pribadi dan pengalaman pribadi dengan individu yang terkait dengan nomor ini, tanpa mengindikasikan kejahatan atau penipuan.

Kemungkinan tujuan: Unggahan Pribadi/Dating App (Tidak Menunjukkan Aktivitas Berbahaya)

Bahaya rendahAbaikanno

Analisis AI: 11 Jul 2026

Ringkas nomor NoCall ini dengan

Informasi berdasarkan laporan komunitas dan analisis otomatis. Informasi ini mungkin mengandung kesalahan atau sudah usang, dan bukan nasihat hukum atau tuduhan terverifikasi terhadap pemilik nomor.

ID

Indonesia

Informasi operator

Negara:
IDIndonesia
Prefiks:
+62
Tipe:
Lainnya
Operator:
Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XL Axiata, Smartfren

Pencarian terbaru

2 minggu ini

7 hari terakhir

Komentar komunitas

7
Anonim

Gangguan terus-menerus, yang parahnya dan tidak ada yang bertindak!

Anonim

Berdering sekali lalu ditutup, yang parahnya dari nomor lain juga

Anonim

Gangguan terus-menerus dan juga tanpa pesan apa pun!!

Anonim

Tidak ada yang bicara saat diangkat, apalagi tanpa alasan jelas

Anonim

Tidak ada yang bicara saat diangkat, yang parahnya tanpa alasan jelas.

Anonim

Aku kenal cowok ini dari dating apps. Kita udah pernah ketemuan beberapa kali. Secara fisik oke (ukuran tinggi badannya lebih tinggi dari aku, body nggak terlalu gemuk dan nggak terlalu kurus, wajah juga nggak jelek) tapi ada perasaan agak gimanaa gitu kalo misal dia dijadikan pasangan hidup soalnya dia merokoknya cukup kenceng cuuyy. Di manapun dan kapanpun merokok tuh kayak udah jadi nomor satu, seolah mengabdikan hidupnya untuk merokok. Lebih parah lagi mungkin pas dia udah nongkrong sama teman-temannya. Tahu sendiri kan tongkrongan cowok-cowok itu kebanyakan kayak apa? Seringnya kan ngopi dan ditemani sama ROKOK. Udah pasti di tongkrongan itu dia merokok sekaligus jadi penghirup asap rokok dari teman-temannya. Kalo sesekali okelah gapapa, tapi masalahnya dia sendiri juga keseringan nongkrong dan pulangnya nyampe larut malam. Kalo disuruh berhenti gitu kayaknya susah deh (dan kemungkinan besar nggak akan digubris juga) soalnya proses berhenti merokok juga nggak segampang itu (ya salah sendiri, siapa suruh dari awal buat merokok?!). Kalo misal dia udah berkeluarga gitu jatuhnya tetap bikin was-was nggak sih? Walaupun katakanlah dia merokoknya di luar rumah atau di manapun asalkan asap rokoknya nggak terpapar ke keluarganya, tapi kan masih tetap ada kemungkinan punya dampak buruk buat pasangan dan anak-anaknya. Amit-amit kan kalo misal nyampe jadi kena infeksi saluran pernapasan dan penyakit lainnya. Biaya buat berobat juga nggak murah cuuyy. Ini juga jadi contoh buruk, kalo kebiasaan ini nyampe ditiru anak-anaknya kan sedih banget yak. Daripada boros duit buat beli rokok, mendingan buat perawatan gigi deh. Soalnya susunan gigi bagian bawahnya dia itu agak berantakan dan warna giginya juga agak kuning gitu, mungkin karena efek merokok (?). Selain itu dia katanya juga sering begadang. Kalo tidur sukanya menjelang subuh dan baru bangun pas udah siang. Udah gitu kayaknya dia sering makan junk food juga. Duh kalo kesehatan diri sendiri aja nggak diperhatikan kayak gitu gimana ntar kalo berkeluarga.

Anonim

Gue kenal cowok ini dari dating apps. Namanya RIVANDO YANDRATAMA NASUTION dan biasa dipanggil VANDO. Dia katanya berasal dari Jakarta, tapi dia punya darah Batak. Dia lahir pada tahun 1992, alumni Universitas Dian Nuswantoro jurusan broadcasting (penyiaran), masih single, dan belum pernah menikah. Dia bekerja di perusahaan yang bernama PT NexWave (salah satu subkontraktor telekomunikasi terbesar di Indonesia). Sebelum gue swipe right dia, gue sempat lihat-lihat fotonya dulu dan entah kenapa gue sotoy atau gimana tapi kayak ada feeling "Kalo dilihat dari tampangnya serasa kayak ada aura tukang ghostingnya". Tapi pada akhirnya gue coba menepis pikiran itu karena "Don't judge a book by its cover" wkwkwk. Setelah match, kita mulai chattingan. Awalnya biasa aja tapi lama-lama jadi seru. Kayaknya sih orangnya ramah, enak juga diajak ngobrol gitu. Setelah beberapa lama, kita akhirnya pindah chat di WhatsApp. Di WA pun, dia masih sama serunya seperti pas kita masih chattingan di dating apps. Ngobrol ngalor ngidul, seolah nggak bakal kehabisan topik obrolan. Gue pikir ya kayaknya kita cukup nyambung nih. Suatu hari, di chat dia bilang katanya pengen ketemuan. Gue setuju dan langsung diskusi sama dia soal kapan, di mana, dan jam berapa kita mau ketemuan. Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya tiba juga hari pertama kita ketemuan. Kita ketemuan di salah satu tempat ngopi pada sore hari. Di situ gue lihat sosoknya untuk yang pertama kali. Ciri fisiknya : tinggi badan sekitar 170 cm, body sedang (nggak terlalu kurus dan nggak terlalu gemuk), susunan gigi bagian bawah kurang rapi, dan wajahnya not bad lah. Sepertinya dia tipe yang suka berpakaian casual soalnya waktu itu dia pake kaos lengan pendek berwarna hitam, pake celana panjang jenis cargo, dan bersepatu, persis seperti foto-fotonya yang ada di akun dating apps-nya. Dan yang di luar dugaan tuh cara bicaranya dan sikapnya kalem banget. Kirain dengan tampangnya yang terkesan flat, cool, dan agak bad boy itu dia bakal cuek, membosankan, nggak menyenangkan, dsb gitu tapi ternyata enggak. Kalo dari kacamata gue sendiri sebenarnya dia cukup bisa masuk ke dalam tipe cowok yang gue suka sih, cuma sayangnya ternyata dia perokok. Untung waktu itu kita nongkinya di bagian outdoor jadi yaweslah, hal itu nggak terlalu gue gubris dan lebih mencurahkan fokus gue ke pertemuan ini (ngobrol-ngobrol untuk tahu lebih banyak lagi soal dia dan begitu juga sebaliknya). Setelah pertemuan pertama berjalan lancar, kita masih lanjut komunikasi di WA, saling bertukar kabar dan lanjut ke topik obrolan yang lain. Dan selama itu juga dia suka cerita kalo dia sering nongkrong sama teman-temannya setelah selesai bekerja. Alasannya sih karena suwung (merasa kosong, kesepian) di rumah karena dia tinggal sendirian, sementara orang tua dan adik-adiknya tinggal di kota lain. Dia juga sering PAP (Post a Picture) di mana foto yang dia kirim itu memperlihatkan kalo dia beneran lagi nongki (biasanya ditemani beberapa cangkir kopi dan udah pasti juga ada bungkus rokok). Dia biasanya baru pulang nongkrong antara jam 11 nyampe jam 1 malem. Pas udah nyampe rumahnya pun kadang dia juga masih begadang, entah main game sepak bola atau nonton film sambil nunggu ngantuknya datang. Dia biasanya baru tidur menjelang subuh dan sering bangun siang. FYI, jam kerja dia kebetulan juga dimulai dari siang hari nyampe sebelum atau kadang setelah waktu Isya, tapi ada kalanya dia WFH (Work From Home) juga. Pas hari libur pun juga begitu, kalo suwung kadang suka keluar rumah nongki-nongki sama teman-temannya nyampe larut malam (kalo lagi nggak hujan). Emang agak-agak nggak sehat sih gaya hidupnya (merokok dan suka begadang) kalo kata gue tapi kurang lebih begitulah kesehariannya. Suatu hari, kita mau ketemuan lagi. FYI, ini pertemuan kita untuk yang ketiga kalinya. Jadi hari sebelumnya kita sepakat mau jalan-jalan ke kebun binatang. Dan untuk itu gue minta dia jangan begadang dan pasang alarm karena harus bangun pagi. Dia sih bilang "Ahaha siap deh. Buat jaga-jaga besok kamu bantu bangunin aku lewat telfon juga ya." Gue iyain, tapi agak skeptis juga karena dia bukan morning person (akibat suka begadangnya itu). Tapi yaudahlah, gue berharap pas hari H dia nggak PHP. Nah pas hari H, gue bangun tidur sekitar setengah 6 pagi. Terus setengah jam kemudian, gue coba telfon buat memastikan dia udah bangun atau belum. Telfon diangkat, tapi jawabannya dia "Aduuh maaf banget yaa, tapi aku masih ngantuk. Serius baru bisa tidur habis subuh tadi. Gimana kalo nanti sore aja kita ketemuannya, gapapa kan?". Yang tadinya gue udah excited mau ke kebun binatang setelah sekian lamanya nggak pergi ke sana seketika jadi agak bad mood gara-gara mendengar perkataannya itu. Dan itu berarti harus ganti tempat untuk ketemuan karena kebun binatang yang mau kita tuju itu akan tutup kalo sudah menjelang sore. Gue cuma bisa menelan kekecewaan dan menjawab "Oke gapapa, ntar gue kabarin lagi di mana tempat kita nanti ketemuan." Menurut gue sih dari.

Laporkan nomor ini

Apa yang terjadi?

Ringkasan sinyal untuk +62 812 9824 2214

+62 812 9824 2214 termasuk dalam prefiks 812 dan diklasifikasikan sebagai panggilan tak terklasifikasi. Halaman ini menggabungkan tidak ada laporan yang disetujui dan 7 komentar publik untuk menjelaskan tingkat risikonya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa yang menelepon dari +62 812 9824 2214?
+62 812 9824 2214 adalah nomor telepon dengan prefiks 812 di Indonesia. Belum ada laporan spam, tetapi Anda dapat memeriksa komentar pengguna lain di bawah. Periksa komentar untuk mengetahui siapa yang mungkin berada di balik panggilan ini.
Apakah +62 812 9824 2214 adalah nomor spam?
Belum ada cukup laporan untuk memastikan apakah +62 812 9824 2214 adalah spam. Periksa skor risiko dan komentar komunitas.
Apakah aman untuk menghubungi kembali +62 812 9824 2214?
Jika Anda tidak mengenali nomornya dan nomor itu memiliki laporan negatif, sebaiknya jangan menghubungi kembali +62 812 9824 2214. Hindari membagikan detail pribadi atau perbankan dengan nomor yang tidak dikenal.
Bagaimana cara memblokir +62 812 9824 2214?
Di iPhone, buka Terbaru di aplikasi Telepon, ketuk (i) di samping nomor, dan pilih 'Blokir Penelepon Ini'. Di Android, tekan lama nomor di riwayat panggilan Anda dan pilih 'Blokir nomor'. Anda juga dapat menggunakan aplikasi NoCall untuk memblokir panggilan seperti +62 812 9824 2214 secara otomatis.
Di mana saya bisa melaporkan panggilan yang mencurigakan?
Anda dapat melaporkan +62 812 9824 2214 langsung di halaman ini menggunakan tombol laporkan. Kontribusi Anda membantu pengguna lain mengidentifikasi panggilan yang tidak diinginkan.