+62 895 334 007 333
Tingkat risiko: Rendah
Siapa ini? Spam, telemarketing, atau panggilan yang sah? Laporan komunitas di Indonesia.
Nomor dengan prefiks 895. Tinjau laporan komunitas, risiko, dan komentar di bawah sebelum menjawab atau memblokir. Jelajahi nomor dengan prefiks 895
Analisis AI
Informasi Terbatas: Nomor telepon +62895334007333 memiliki laporan terbatas. Dua komentar yang hampir identik dari pengguna menceritakan pertemuan pribadi dengan seseorang bernama Indra Setiawan, yang mengaku sebagai pengacara perceraian, setelah bertemu melalui aplikasi dating. Tidak ada indikasi penipuan, spam, atau aktivitas berbahaya yang jelas dalam laporan.
Kemungkinan tujuan: Unggahan Pribadi/Pertemuan Sosial (Tidak Menunjukkan Aktivitas Berbahaya)
Analisis AI: 10 Jul 2026
Informasi berdasarkan laporan komunitas dan analisis otomatis. Informasi ini mungkin mengandung kesalahan atau sudah usang, dan bukan nasihat hukum atau tuduhan terverifikasi terhadap pemilik nomor.
Indonesia
Informasi operator
- Negara:
Indonesia- Prefiks:
- +62
- Tipe:
- Lainnya
- Operator:
- Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XL Axiata, Smartfren
Pencarian terbaru
7 hari terakhir
Komentar komunitas
1Aku pernah ketemuan sama cowok ini. Kita berkenalan dari dating apps. Namanya INDRA SETIAWAN, panggilannya INDRA. Dia kerja di bidang hukum, lebih tepatnya sebagai pengacara perceraian. Jadi, ceritanya dia tuh ngajakin ngopi di suatu cafe tapi dia ngajaknya DADAKAN. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka dadakan, tapi karena aku pas nggak lagi sibuk jadi aku iyain ajakannya. Aku berangkat ke cafe sendiri dengan mengendarai motor. Pas nyampe di cafe, aku akhirnya melihat dia untuk yang pertama kali. Dia udah duduk duluan ditemani kopi yang udah dia pesan sambil merokok. Dalam hati aku berkata "Duh, ternyata perokok". Aku sama sekali nggak suka sama cowok perokok. Wajahnya sih cakep dikit, rambutnya agak berantakan waktu itu, nggak gemuk, mungkin tinggi badannya sekitar 175 cm, umurnya sekitar 30 tahunan tapi penampilannya waktu itu agak-agak gimanaaa gitu. Dia pakai semacam hoodie dan bawahan ripped jeans (celana jeans yang sobek-sobek). Aku nggak masalah dia pakai hoodie, tapi pakai ripped jeans pas pertama kali ketemu tuh menurutku NGGAK BANGET! Kesannya kayak nggak rapi. Mending pakai celana jeans panjang biasa yang nggak ada sobekannya! Dan kalian tahu? Pas aku nyamperin dia, dia tuh secara tipis-tipis kayak ngelihatin aku dari atas nyampe bawah. Aku mengernyit sedikit dan cuma bisa ngebatin "Hah? Baru aja ketemu kok udah kurang sopan aja ya cowok ini??" Huft! Yaudah karena aku udah terlanjur datang kita lihat aja nanti. Di awal ngobrol, dia sempat nanya "Oh iya, aku ngerokok gini kamu gapapa?" Nah, baguslah dia peka. Masa aku yang nyuruh dia duluan buat matikan rokoknya. Dan tentu saja dengan tegas aku bilang "Maaf ya, aku nggak suka sama asap rokok". Seketika itu juga sih dia langsung mematikan rokoknya. Nggak tahu dalam hatinya ikhlas atau enggak yang penting aku nggak mau ada asap rokok beterbangan di mukaku. Nggak sudi aku kalo harus jadi perokok pasif. Nah, abis itu kita emang ada lanjut ngobrol dikit-dikit tapi seriusan dia lebih banyak fokus ke HP. Dia bilang "Eh maaf ya, ini aku sambil nyambi kerjaan soalnya". Halah, alasan klasik! Entah dia beneran nyambi kerjaan atau enggak aku cuma bisa tersenyum tipis. Cuma masalahnya aku di sini tuh lebih cenderung jadi boneka yang cuma duduk manis nemenin dia ngopi daripada jadi teman ngobrol. Kalo emang masih sibuk berkutat sama kerjaan kenapa malah ngajakin ketemuan?! Di sepanjang ketemuan itu aku agak bete karena lebih banyak didiemin. Obrolannya dia juga ala kadarnya, nggak asyik. Jujur pengen cepat-cepat pergi dari hadapannya dia, tapi mau pergi ke mana aku juga bingung soalnya aku masih pengen nongkrong di luar (belum pengen pulang ke rumah). Akhirnya aku terpaksa bertahan jadi boneka. Setelah lama menghabiskan waktu di cafe, dia ngajakin aku makan di warung seafood. Warung itu letaknya cuma beberapa meter dari cafe tempat kita ketemuan. Kita makan-makan sambil ngobrol dikit dan tentu saja dia masih nyambi kerjaannya. Aku udah bodo amat, yang penting cepat-cepat aja menghabiskan makananku. Habis kelar makan, ada telepon di HPku dan ternyata itu dari papaku. Papaku nyuruh aku untuk segera pulang. Pucuk dicinta ulam tiba! Kebetulan banget ada alasan biar bisa cepat-cepat pergi. Jadi habis telepon ditutup aku langsung pamit pulang. Nggak ada gunanya juga berlama-lama bareng dia. Nyampe di rumah aku rasanya capek banget padahal cuma duduk manis doang. Tiga hari kemudian dia ngechat aku. Lagi-lagi secara dadakan dia ngajak ketemuan. Waktu itu jam udah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi demi apapun aku rasanya udah males banget dan sama sekali nggak ada energi buat ketemuan lagi sama dia. Aku pikir paling aku cuma jadi boneka lagi. Akhirnya aku tolak ajakannya dengan alasan udah kemalaman. Beberapa bulan setelah itu dia begitu lagi (ngechat ngajakin ketemuan secara dadakan). Aku jujur kesal banget. Kenapa sih dia suka seenaknya gitu?! Seolah bagi dia ketemuan itu simpel banget. Kayak nggak mikirin gimana, nggak peduli, atau mempertimbangkan dulu dari sudut pandang orang yang akan diajak ketemuan. Apalagi kita itu statusnya masih stranger alias belum kenal banget. Dan waktu itu waktu masih menunjukkan pukul 6 PAGI! Bukannya kasih kesan yang semakin baik pas awal-awal kenalan malah makin bikin ilfeel! Langsung aku tolak mentah-mentah dengan alasan mau ke luar kota. Sebenarnya kalo aku lihat dia tuh kelihatannya kayak tipe-tipe cowok yang cuma pengen ketemuan, ngobrol, senang-senang doang sama cewek, makanya suka seenaknya gitu. Apalagi tatapan matanya entah kenapa kayak orang mesum! Ih udah deh, jauh-jauh aja dari anomali kayak gini!
Ringkasan sinyal untuk +62 895 334 007 333
+62 895 334 007 333 termasuk dalam prefiks 895 dan diklasifikasikan sebagai Spam. Halaman ini menggabungkan tidak ada laporan yang disetujui dan 1 komentar publik untuk menjelaskan tingkat risikonya.
